Opini

Oknum Kolonel : Pantang Negosiasi dengan Penjahat, Lukai Hati Penambang 

Oleh: Anak Cucu Penambang Rakyat Pohuwato, Yopi Y. Latif., C.ILJ.

Opini, Pernyataan yang diduga dilontarkan oleh seorang diduga oknum kolonel di hadapan penambang rakyat di Bumi Panua (Pohuwato) bukan hanya melukai, tetapi juga menyulut kemarahan yang selama ini kami tahan.

Narasi yang menyudutkan, merendahkan, dan melabeli penambang rakyat sebagai “penjahat” adalah bentuk penghinaan terhadap martabat kami sebagai anak negeri.

Sebagai anak cucu penambang, kalimat itu melukai hati saya. Bukan hanya saya, tetapi juga hati orang tua saya yang berprofesi sebagai penambang rakyat. Mereka yang setiap hari bekerja keras di bawah terik matahari, mempertaruhkan tenaga dan keselamatan demi menghidupi keluarga, kini harus menerima stigma yang tidak pantas.

Kami tegaskan sekali lagi, kami bukan penjahat.

Kami adalah rakyat yang hidup dari tanah ini. Kami menggantungkan hidup pada sumber daya yang telah lama menjadi bagian dari sejarah dan keberlangsungan hidup kami.

Ketika kami diposisikan sebagai pihak yang salah tanpa ruang klarifikasi, maka yang terjadi bukan penegakan hukum melainkan penindasan.

Jangan paksa kami menjadi anarkis.

Selama ini kami menahan diri. Kami memilih jalan damai. Kami percaya bahwa konflik bisa diselesaikan dengan dialog yang adil dan berimbang. Namun ketika kami dihina, diusik, dan terus ditekan, maka kesabaran itu ada batasnya.

Kami tidak ingin kekacauan. Kami tidak ingin benturan.

Tetapi jangan dorong kami ke titik itu.

Atas pernyataan yang telah melukai hati penambang rakyat Pohuwato, kami menyampaikan tuntutan yang jelas dan tidak bisa ditawar:

  1.  Klarifikasi terbuka atas pernyataan yang telah disampaikan di hadapan penambang rakyat.
  2.  Permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh penambang rakyat Bumi Panua.
  3.  Menghentikan segala bentuk intimidasi, stigma, dan pendekatan represif terhadap masyarakat.
  4.  Keluar dari ruang hidup kami jika kehadiran hanya membawa tekanan dan konflik.

Tanah ini bukan sekedar wilayah, ini adalah sumber kehidupan kami, identitas kami, dan masa depan anak cucu kami.

Kami tidak anti terhadap siapa pun yang datang dengan niat baik dan menghormati kami sebagai manusia. Tetapi jika kehadiran itu justru merampas ruang hidup kami, maka kami berhak untuk menolak.

Ini bukan ancaman. Ini adalah peringatan.

Kami masih memilih damai.

Kami masih membuka ruang dialog.

Tetapi jangan salah kami juga punya batas.

Hentikan provokasi. Hormati rakyat. Atau tinggalkan tanah kami, Pohuwato.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button